Sering Bikin Wasit Bete: Roy Keane Hobi Berteriak dan Menggertak

Sering Bikin Wasit Bete: Roy Keane Hobi Berteriak dan Menggertak

5 Pesepak Bola Paling Kasar, Ada Tendangan Kungfu dan Patahkan Kaki Lawan

Sejak Premier League diluncurkan pada musim 1992/1992, sudah ratusan wasit yang bertugas di kasta tertinggi Inggris itu.

Namun hanya segelintir wasit yang kemudian dikenang sebagai pengadil jempolan. Satu di antaranya adalah Mark Clattenburg.

Masin kenal dengan Clattenburg? Saat ini, Clattenburg berusia 48 tahun dan sudah sekian tahun pensiun dari Premier League, tepatnya pada 2017.

Clattenburg tak hanya menjadi pengadil di Premier League sejak 2004, melainkan juga pernah dipercaya memimpin duel-duel bergengsi di kompetisi Eropa lainnya termasuk Liga Champions.

Pada Januari 2023, Clattenburg mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden Komite Wasit Mesir. Clattenburg hengkang karena mendapat ancaman serius lantaran dituding gay.

Oh ya, selama berkarier, ternyata Clattenburg bukan cuma bergelimang pengalaman dan sanjungan, tapi juga hal lain yang tak akan pernah ia lupakan sepanjang umur.

Apa itu? Menurut mantan wasit Mark Clattenburg, sedikitnya ada lima pemain yang membuatnya sebal dan jengkel selama berkarier di Premier League.

1. Craig Bellamy
Sejujurnya, Bellamy masuk daftar yang dibenci sebagian besar wasit. Tak terkecuali Clattenburg.

“Yang terburuk dan saya sudah memikirkannya selama bertahun-tahun adalah Bellamy,” tulis Clattenburg.

“Bellamy adalah mimpi buruk bagi wasit dan sebagian besar dari kami merasakan hal yang sama.”

“Dia akan membentakmu dan memelukmu, terus-menerus menantangmu. Bahasanya mengerikan, benar-benar kasar.

“Sebagai wasit, sulit ketika Anda memiliki pemain bermasalah seperti itu karena Anda tertarik padanya dan itu mengganggu.”

Clattenburg telah mengeluarkan Bellamy saat dia bermain untuk Manchester City dalam pertandingan melawan Bolton pada 2009.

2. Roy Keane
Clattenburg tidak suka cara legenda Manchester United ini yang kerap mencoba menggertak wasit. “Ketika bermain dia sulit diatur,” tulis Clattenburg.

“Ingat insiden dengan Andy D’Urso ketika dia berteriak di wajahnya, upaya untuk menggertak wasit adalah seperti apa dia sesungguhnya.”

“Saya pikir itu datang dari Sir Alex Ferguson juga. Itu tidak pernah tentang memengaruhi keputusan yang diambil dengan Manchester United, itu selalu tentang menerapkan lebih banyak tekanan.”

“Kamu juga tidak bisa mempercayai Roy. Anda tidak pernah tahu apakah dia akan meledak atau melakukan sesuatu yang buruk, seperti tekel terhadap Alf-Inge Haaland. Itu memalukan, itu sudah direnungkan sebelumnya.”

“Dia selalu tampil sedingin batu dan ingin menjadi orang yang keras. Itu menyebabkan masalah bagi wasit karena ego muncul dan itu menjadi pertarungan, seperti yang terjadi antara dia dan Patrick Vieira,” sambung Clattenburg.

3. Pepe
“Dia tidak senang kepada wasit sedikit, Anda harus selalu waspada,” kata Clattenburg.

Mantan wasit itu mengenang bagaimana rasanya menghadapi bek tengah Portugal di final Liga Champions 2016 antara Real Madrid dan Atletico Madrid.

“Semua orang selalu bertanya tentang insiden di final Liga Champions 2016 ketika dia berguling-guling di lantai, berakting,” lanjutnya.

“Di kepala saya, saya berpikir ‘Betapa lembutnya Anda untuk pria besar?”

“Dia melakukannya dua kali dalam pertandingan itu, mencoba untuk membuat pemain Atletico Madrid dikeluarkan. Wasit lain mungkin akan tertipu, tetapi saya telah melakukan pekerjaan rumah saya dan, sementara Anda harus mencoba untuk tidak melakukan pra-penilaian, saya tahu persis apa yang dia lakukan.”

“Dia adalah pemain yang tidak bisa Anda percayai. Sebuah permainan bisa menjadi mudah dan lugas kemudian dia akan melakukan sesuatu yang licik.”

“Di final itu Real Madrid unggul 1-0 di babak pertama tetapi golnya sedikit offside dan kami menyadarinya di babak pertama – itu keputusan yang sulit dan asisten saya melewatkannya.”

“Saya memberi Atletico penalti di awal babak kedua ketika Pepe melanggar Fernando Torres. Pepe sangat marah dan berkata kepada saya dalam bahasa Inggris yang sempurna: ‘Jangan pernah penalti, Mark.’ Saya berkata kepadanya: ‘Gol pertama Anda seharusnya tidak disahkan.’ Itu membungkamnya.

4. John Obi Mikel
Pada 2012, Chelsea mengajukan protes resmi ke FA setelah Mikel menuduh Clattenburg membuat komentar rasis selama pertandingan.

Meski sudah sempat diselesaikan, insiden tersebut tetap merugikan Clattenburg.

“Saya memilih Mikel karena insiden selama pertandingan Chelsea vs Manchester United pada 2012 ketika dia menuduh saya membuat komentar rasial, yang tidak benar dan saya kemudian dibebaskan oleh FA.”

“Dia tidak pernah meminta maaf dan itu mengecewakan karena bisa menghancurkan hidup saya. Saya jatuh cinta dengan pekerjaan wasit untuk beberapa saat. Setelah itu saya sempat ingin berhenti karena saya memiliki keluarga.”

“Itu semua meninggalkan perasaan buruk yang masih ada sampai sekarang.”

“Mikel hanya mendengar tuduhan dari rekan setimnya Ramires, yang tidak bisa berbahasa Inggris. Pemain Chelsea lainnya sejak itu meminta maaf tetapi tidak ada apa pun dari Mikel.”

“Dia memiliki kesempatan untuk meminta maaf dan berbicara kepada saya tentang hal itu selama pertandingan persahabatan Nigeria di Amerika Serikat sebelum Piala Dunia 2014, dan saya akan menyambutnya. Tapi ternyata tidak ada,” imnbuh Clattenburg.

5. Jens Lehmann
“Dia sangat mudah tersinggung dan tidak pernah berhenti, salah satu dari orang-orang menyedihkan yang selalu mengeluh tentang segala hal,” kata Clattenburg.

“Jika bolanya bulat, dia akan merengek. Jika bolanya putih, dia akan merengek. Anda akan berpikir, ‘Istirahat saja’.”

“Dia adalah penjaga gawang yang hebat tapi sejujurnya saya pikir ini adalah kelemahan dalam dirinya.”

“Dia akan melakukan snidey, hal-hal kecil yang membuatnya sulit dan saya sama sekali tidak menikmati menjadi wasit,” imbuh Clattenburg.

 

 

Tinggalkan komentar