Awal Perseteruan & Upaya Perdamaian

Awal Perseteruan & Upaya Perdamaian

Masked militants from the Izzedine al-Qassam Brigades, a military wing of Hamas, march with their rifles a long the streets of Nusseirat refugee camp, central Gaza Strip, Friday, May 28, 2021. Arabic on the headband reads Serangan mendadak Hamas terhadap Israel kembali melambungkan nama faksi di Palestina tersebut. Serangan itu bahkan membuat Israel kelabakan dan terpaksa menetapkan status perang.
Adapun Hamas bukanlah satu-satunya faksi besar di Palestina. Bahkan, Hamas memiliki rival internal yang juga kuat, yakni Fatah.Hamas secara politis menguasai Jalur Gaza, wilayah seluas sekitar 365 km persegi yang merupakan rumah bagi sekitar 2,3 juta orang tetapi diblokade oleh Israel. Dari segi nama, Hamas merupakan singkatan dari Gerakan Perlawanan Islam dan dalam bahasa Arab berarti “semangat”.Hamas telah berkuasa di Jalur Gaza sejak 2007 setelah perang singkat melawan pasukan Fatah yang setia kepada Presiden Mahmoud Abbas, kepala Otoritas Palestina dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

Gerakan Hamas didirikan di Gaza pada 1987 oleh seorang imam Sheikh Ahmed Yasin dan ajudannya Abdul Aziz al-Rantissi tak lama setelah dimulainya Intifada pertama, sebuah pemberontakan melawan pendudukan Israel di wilayah Palestina.

Gerakan ini dimulai sebagai cabang dari Ikhwanul Muslimin di Mesir dan membentuk sayap militer, Brigade Izz al-Din al-Qassam. Kelompok tersebut dibuat untuk melakukan perjuangan bersenjata melawan Israel dengan tujuan membebaskan Palestina.

Mereka juga menawarkan program kesejahteraan sosial kepada warga Palestina yang menjadi korban pendudukan Israel.

Secara prinsip, Hamas tidak mengakui kenegaraan Israel, tidak seperti PLO yang mengakui keberadaan Negeri Yahudi itu. Hamas menerima negara Palestina berdasarkan perbatasan tahun 1967.

“Kami tidak akan melepaskan satu inci pun tanah air Palestina, apapun tekanan yang terjadi saat ini dan berapapun lamanya pendudukan,” kata Khaled Meshaal, pemimpin kelompok Palestina di pengasingan pada tahun 2017.

Hamas juga dengan keras menentang perjanjian perdamaian Oslo yang dinegosiasikan oleh Israel dan PLO pada pertengahan tahun 1990an. Kelompok ini secara resmi berkomitmen untuk mendirikan negara Palestina di wilayahnya sendiri.

Kelompok ini secara keseluruhan atau dalam beberapa kasus sayap militernya ditetapkan sebagai organisasi “teroris” oleh Israel, Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, Kanada, Mesir dan Jepang.

Meski dicap teroris, Hamas adalah bagian dari aliansi regional yang juga mencakup Iran, Suriah dan kelompok Hizbullah di Lebanon, yang menentang kebijakan AS terhadap Timur Tengah dan Israel.

Hamas dan Kelompok Jihad Islam, kelompok bersenjata terbesar kedua di kawasan, seringkali bersatu melawan Israel. Namun hubungan kedua kelompok pernah menjadi tegang ketika Hamas memberikan tekanan pada Jihad Islam untuk menghentikan serangan terhadap Israel.

Sepak Terjang Fatah
Fatah didirikan pada akhir tahun 1950-an oleh Yasser Arafat dengan tujuan merebut Palestina dari kendali Israel dengan melancarkan perang gerilya intensitas rendah. Pada akhir 1980-an, negara ini mulai mencari solusi dua negara melalui jalur diplomatik, dan para pemimpinnya merupakan pemain terkemuka dalam proses perdamaian Oslo yang membentuk Otoritas Palestina.

Fatah memperoleh dukungan Suriah dan berbasis di Damaskus. Pada 1963 Fatah telah mengembangkan struktur organisasi tipe komando. Pada Desember 1964, mereka melakukan operasi militer pertamanya ketika meledakkan instalasi pompa air Israel.

Pada tahun 1968 Fatah-yang saat itu berpusat di Yordania-telah muncul sebagai kekuatan utama Palestina dan pada Maret tahun itu menjadi sasaran utama serangan Israel di desa Karameh di Yordania yang menewaskan 150 gerilyawan dan 29 warga Israel.

Kuatnya pengaruh Fatah di Karameh-terutama setelah penghinaan terhadap Arab dalam Perang Enam Hari tahun 1967-mendorong Fatah secara politik dan psikologis.

Pada akhir tahun 1960-an, organisasi ini merupakan organisasi Palestina yang terbesar dengan pendanaan terbaik dan telah mengambil alih kendali efektif PLO.

Awal Perseteruan
Hamas dan Fatah dalam perjalanannya tidak berjalan beriringan. Hamas merupakan partai politik berhaluan ideologi Islam sementara Fatah memiliki haluan ideologi nasionalis sekuler.

Pada mulanya, Fatah merupakan faksi yang mendominasi politik Palestina dan kedua kelompok ini sebenarnya mengakui Israel sebagai negara yang berdaulat.

Hal ini tidak dapat diterima oleh Hamas. Organisasi itu berpandangan bahwa Israel bukanlah negara yang berdaulat, namun merupakan jenis pendudukan baru yang harus diserang eksistensinya.

Perbedaan pandangan antara kedua kubu ini makin meruncing pada tahun 2004 ketika pemimpin Fatah yang juga Presiden Palestina, Yasser Arafat, wafat. Yasser Arafat merupakan tokoh yang cukup vital dalam mengembangkan paham Fatah yang mau berdamai dengan Israel melalui kesepakatan Oslo.

Wafatnya Yasser merupakan momentum penting bagi Hamas mengingat kekuatan politik rivalnya itu berkurang. Pada pemilu 2006, Hamas memenangkan parlemen Palestina dan merebut kekuasaan Fatah di posisi penting itu. Hal ini membuat figur Hamas, Ismail Haniyeh, terpilih sebagai Perdana Menteri Palestina.

Kemenangan Hamas paling dominan terjadi di wilayah Gaza, yang merupakan pemukiman terpadat di negara itu. Sebelum memenangkan pemilu, Hamas memang banyak membuat kegiatan sosial di wilayah itu seperti pembangunan sekolah dan fasilitas umum lainnya. Fatah, di sisi lain, tetap berhasil melanjutkan kekuasaannya di wilayah Tepi Barat.

Upaya Perdamaian
Adapun pada pertengahan tahun ini kedua faksi mulai menjajaki proses perdamaian. Presiden Mahmoud Abbas menyerukan pembentukan komite tindak lanjut dari para peserta pertemuan ketua faksi Palestina untuk menyelesaikan dialog berbagai isu.

Dilansir kantor berita Palestina, WAFA, Abbas meminta komite tersebut untuk segera mulai bekerja untuk mencapai misinya dan menyerahkan kesepakatan atau rekomendasi yang dicapai.

Abbas mengatakan dia menganggap pertemuan hari ini sebagai langkah pertama dan penting untuk menyelesaikan dialog nasional, dan menyatakan harapan bahwa tujuan yang diinginkan akan tercapai sesegera mungkin.

Adapun saat ini belum jelas sejauh mana upaya perdamaian kedua faksi besar tersebut. Terkait serangan ke Israel, sejauh ini Hamas yang menyatakan bertanggung jawab.

Tinggalkan komentar